Maros – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Universitas Hasanuddin Gelombang 116 (KKN Unhas 116) Tematik Perubahan Iklim gelar workshop pembuatan fungisida hayati Trichoderma yang dilaksanakan di Desa Jenetaesa, Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros.
Kegiatan tersebut berlangsung pada Rabu, 5 Agustus 2026, sebagai bagian dari program kerja individu mahasiswa KKN Unhas. Workshop ini diinisiasi oleh Dila Puspita, mahasiswa Jurusan Ilmu Kelautan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Unhas, selaku penanggung jawab kegiatan.
Sejumlah warga Desa Jenetaesa turut hadir dan mengikuti kegiatan dengan antusias. Mereka mendapatkan edukasi mengenai pemanfaatan agen hayati sebagai salah satu alternatif dalam mengendalikan penyakit tanaman tanpa sepenuhnya bergantung pada penggunaan fungisida kimia.
Kegiatan diawali dengan pembukaan dan penyampaian tujuan workshop. Selanjutnya, peserta mendapatkan pemaparan mengenai Trichoderma, yakni jamur yang dapat dimanfaatkan sebagai agen pengendali hayati untuk menghambat pertumbuhan berbagai jamur penyebab penyakit pada tanaman.
Dalam pemaparan tersebut, warga diperkenalkan pada manfaat Trichoderma sebagai alternatif pengendalian penyakit tanaman yang dinilai lebih ramah lingkungan.
Selain itu, proses pembuatannya relatif sederhana sehingga memungkinkan masyarakat untuk memproduksinya secara mandiri dengan memanfaatkan bahan-bahan yang mudah diperoleh.
Tidak hanya mendapatkan materi secara teori, peserta juga diperlihatkan dokumentasi tahapan pembuatan Trichoderma, mulai dari persiapan bahan, proses inokulasi hingga tahap inkubasi.
Untuk memberikan gambaran yang lebih nyata, peserta juga diperlihatkan sampel Trichoderma yang sebelumnya telah dibuat. Dengan demikian, warga dapat mengenali bentuk, tekstur hingga kondisi hasil akhir yang diharapkan dari proses pembuatan fungisida hayati tersebut.
Setelah pemaparan materi dan demonstrasi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab. Warga tampak aktif mengajukan pertanyaan, khususnya mengenai teknik pembuatan, cara penyimpanan serta penerapan Trichoderma pada berbagai jenis tanaman.Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan yang disampaikan selama sesi berlangsung.
Diskusi tersebut sekaligus menjadi ruang bagi warga untuk memahami lebih jauh bagaimana agen hayati dapat dimanfaatkan dalam mendukung kegiatan budidaya tanaman.
Dila Puspita mengatakan, kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya mendorong pertanian sehat dengan memberikan pengetahuan praktis kepada masyarakat mengenai pemanfaatan agen hayati dalam pengendalian penyakit tanaman.
“Mahasiswa mendorong pertanian sehat dan berkelanjutan,” ujar Dila Minggu (9/8/2026).
Ia berharap melalui workshop ini, masyarakat diharapkan tidak hanya mengetahui manfaat Trichoderma, tetapi juga memiliki pemahaman mengenai proses pembuatannya secara mandiri serta cara mengaplikasikannya dalam budidaya tanaman.
“Melalui kegiatan in8 masyarakat dapat mengenal dan memanfaatkan Trichoderma sebagai salah satu alternatif pengendalian penyakit tanaman yang lebih ramah lingkungan,” harapnya.
Meskipun dilaksanakan dalam skala sederhana, workshop mendapat respons positif dari warga Desa Jenetaesa. Peserta mengikuti setiap tahapan kegiatan dengan aktif dan antusias.
Kegiatan ini selanjutnya diharapkan dapat menjadi bekal bagi masyarakat Desa Jenetaesa dalam menerapkan pola budidaya tanaman yang lebih sehat dan berkelanjutan, sekaligus mendorong pengurangan ketergantungan terhadap penggunaan fungisida kimia.
Program kerja mahasiswa KKN Unhas tersebut juga menjadi bagian dari kontribusi mahasiswa dalam memberikan edukasi dan solusi sederhana yang dapat diterapkan masyarakat sesuai dengan potensi dan kebutuhan di wilayah desa. (Firda)











