Baghdad – Sedikitnya lima kapal dilaporkan menjadi sasaran serangan di perairan Teluk, menyusul dugaan penggunaan kapal tanpa awak bermuatan bahan peledak serta ranjau laut oleh Iran.
Media internasional Al Jazeera melaporkan pada Kamis (12/3/2026), dua kapal tanker bahan bakar diserang di perairan Irak hingga terbakar, sementara tiga kapal lainnya terkena proyektil di wilayah Teluk. Dalam insiden tersebut, satu awak kapal dilaporkan tewas.
Menurut dua pejabat pelabuhan Irak kepada kantor berita Reuters, kapal yang menjadi sasaran serangan pada Rabu malam di perairan Teluk dekat Irak adalah tanker berbendera Kepulauan Marshall, Safesea Vishnu, serta kapal Zefyros, yang sebelumnya memuat kargo bahan bakar di Irak.
“Kami menemukan jasad seorang awak kapal asing di laut,” kata seorang pejabat keamanan pelabuhan.
Tim penyelamat Irak masih terus melakukan pencarian terhadap awak kapal lain yang dilaporkan hilang. Hingga kini belum diketahui secara pasti awak kapal tersebut berasal dari kapal mana.
Sumber keamanan pelabuhan Irak lainnya menyebut kapal Zefyros berbendera Malta dan memberikan daftar nama awak kapal kepada Reuters.
Koresponden Al Jazeera di Baghdad, Mahmoud Abdelwahed, melaporkan bahwa kedua tanker tersebut memuat minyak mentah dari Pelabuhan Umm Qasr di Basra, Irak selatan, sebelum diserang tidak lama setelah memulai pelayaran.
“Pejabat Irak menyatakan insiden ini merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan Irak, karena tindakan sabotase itu terjadi di perairan teritorial Irak,” ujar Abdelwahed.
Reuters juga melaporkan bahwa serangan diduga melibatkan kapal tanpa awak bermuatan bahan peledak, teknologi yang sebelumnya digunakan Ukraina secara efektif dalam perang melawan Rusia.
Situasi ini terjadi ketika Iran memblokir pengiriman minyak yang melintasi Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia, di tengah meningkatnya ketegangan perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Mengutip dua sumber yang tidak disebutkan namanya, Reuters menyebut Iran telah menempatkan sekitar selusin ranjau laut di selat tersebut.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengatakan pasukan AS telah menyerang 28 kapal Iran yang diduga menebar ranjau.
Trump juga memperingatkan akan adanya konsekuensi serius jika Iran benar-benar menanam ranjau di jalur pelayaran strategis dunia tersebut.
Selat Hormuz Memanas
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memperingatkan bahwa setiap kapal yang melintas di Selat Hormuz berpotensi menjadi target serangan.
Sebuah kapal kargo kering berbendera Thailand, Mayuree Naree, dilaporkan terkena dua proyektil yang tidak diketahui asalnya saat melintas di selat tersebut pada Rabu. Serangan itu menyebabkan kebakaran dan merusak ruang mesin kapal.
Operator kapal, Precious Shipping, menyatakan tiga awak kapal dilaporkan hilang dan diduga terjebak di ruang mesin.
“Perusahaan bekerja sama dengan otoritas terkait untuk menyelamatkan tiga awak kapal yang hilang,” kata pihak perusahaan.
Sementara 20 awak kapal lainnya telah berhasil dievakuasi dengan selamat dan saat ini berada di Oman.
Media Thailand, Khaosod English, membagikan foto para awak kapal yang diselamatkan oleh Angkatan Laut Oman.
IRGC dalam pernyataan yang dimuat kantor berita semi-resmi Tasnim News Agency mengklaim kapal tersebut “ditembaki oleh pasukan tempur Iran”, yang diduga menjadi keterlibatan langsung pertama IRGC dalam insiden ini, setelah sebelumnya lebih sering menggunakan rudal atau drone.
Selain itu, kapal kontainer berbendera Jepang ONE Majesty juga dilaporkan mengalami kerusakan ringan akibat proyektil tak dikenal sekitar 25 mil laut (sekitar 46 kilometer) di barat laut Ras al-Khaimah, Uni Emirat Arab.
Pemilik kapal, Mitsui O.S.K. Lines, serta perusahaan penyewa Ocean Network Express menyatakan kapal tersebut terkena proyektil saat sedang berlabuh di Teluk. Pemeriksaan lambung kapal menemukan kerusakan ringan di atas garis air.
Seluruh awak kapal dinyatakan selamat dan kapal masih dapat beroperasi secara normal. Penyebab insiden tersebut masih dalam penyelidikan.
Sementara itu, kapal kargo curah Star Gwyneth berbendera Kepulauan Marshall juga dilaporkan terkena proyektil tak dikenal sekitar 50 mil laut (93 kilometer) di barat laut Dubai. Proyektil tersebut merusak lambung kapal, namun seluruh awak dilaporkan selamat.
Perusahaan manajemen risiko maritim Vanguard Tech menyatakan tidak ada korban luka dalam insiden tersebut.
Di tengah meningkatnya ketegangan, Angkatan Laut Amerika Serikat dilaporkan menolak permintaan hampir setiap hari dari industri pelayaran untuk memberikan pengawalan militer di Selat Hormuz sejak pecahnya perang dengan Iran.
Sumber yang mengetahui masalah tersebut menyebutkan risiko serangan saat ini dinilai terlalu tinggi. (*)
Sumber: Al Jazeera (diterjemahkan dan dirangkum)












