Perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memasuki hari ketujuh dengan serangan yang terus berlangsung di wilayah Iran dan sejumlah negara di kawasan Timur Tengah.
Media internasional Al Jazeera, Jumat (6/3/2026), melaporkan konflik tersebut terus meluas dan memicu ketegangan yang semakin tinggi di kawasan.
Iran dilaporkan masih melancarkan serangan rudal balistik dan drone ke berbagai wilayah di kawasan Teluk.
Sementara itu, Washington dan Tel Aviv mengklaim operasi militer mereka yang diberi nama Operation Epic Fury berhasil melemahkan kemampuan militer Iran secara signifikan.
Lembaga riset keamanan internasional Center for Strategic and International Studies (CSIS) pada Kamis melaporkan bahwa biaya 100 jam pertama operasi militer tersebut mencapai sekitar 3,7 miliar dolar AS, atau sekitar 891 juta dolar AS per hari. Dari jumlah tersebut, sekitar 3,5 miliar dolar AS disebut belum tercantum dalam anggaran resmi.
Serangan Militer Terus Berlanjut
Serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran masih berlangsung hingga hari ketujuh konflik.
Sejak serangan pertama pada Sabtu lalu, dilaporkan lebih dari 1.230 orang tewas di Iran.
Militer Israel mengklaim telah mencapai hampir sepenuhnya menguasai ruang udara Iran. Mereka menyebut telah melancarkan sekitar 2.500 serangan udara dan menghancurkan 80 persen sistem pertahanan udara Iran.
Ketidakpastian Suksesi Pemimpin Iran
Situasi politik di Iran juga memanas setelah tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dalam serangan yang disebut dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel di Teheran pada Sabtu lalu.
Pasca kematian Khamenei, muncul spekulasi mengenai sosok yang akan menggantikannya. Sejumlah laporan menyebut putranya, Mojtaba Khamenei, berpotensi mengambil alih posisi tersebut.
Namun pada Kamis, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan akan mengambil peran langsung dalam menentukan pemimpin baru Iran.
Trump bahkan secara terbuka menyebut Mojtaba sebagai pilihan yang “tidak dapat diterima.”
Iran Peringatkan Invasi Darat
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, memperingatkan bahwa pasukan Iran telah bersiaga menghadapi kemungkinan invasi darat oleh Amerika Serikat.
Ia menyatakan pasukan Iran siap menghadapi serangan tersebut dan bahkan mengancam akan membunuh serta menangkap ribuan tentara Amerika jika invasi benar-benar terjadi.
Iran Tolak Negosiasi dengan AS
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa pihaknya tidak melihat alasan untuk melakukan negosiasi dengan Amerika Serikat.
Menurut Araghchi, pemerintah Iran menilai Washington tidak dapat dipercaya sehingga pembicaraan diplomatik dianggap tidak memiliki dasar yang kuat.
Intensitas Serangan Iran Menurun
Di sisi lain, Amerika Serikat mengklaim intensitas serangan Iran mulai menurun sejak hari pertama konflik.
Menurut Washington, serangan rudal balistik Iran menurun hingga 90 persen, sementara serangan drone turun sekitar 83 persen selama periode yang sama.
Meski demikian, situasi keamanan di Timur Tengah masih sangat tegang. Banyak pihak internasional khawatir konflik ini dapat meluas dan memicu ketidakstabilan yang lebih besar di kawasan tersebut. (*)
Sumber: Al Jazeera (diterjemahkan dan dirangkum).












