Kegiatan berikutnya sesi belajar disisipi permainan edukatif seperti teka-teki dan tebak-tebakan kategori hewan, yang disambut antusias. Terakhir, seluruh siswa SD, berkesempatan mengisi pohon cita-cita, menorehkan impian dan harapan mereka kedepannya.
Sementara itu, di SMPN 8 Biringbulu Satap Tanaberu, Farraz mengatakan fokus kegiatan bergeser pada isu yang relevan dengan usia remaja, yaitu gerakan anti-bullying.
Selama dua hari kegiatan literasi di SMP, mahasiswa mengajak para siswa untuk memahami bahaya perundungan melalui pendekatan literasi visual. Mereka disuguhkan video-video inspirasi yang menunjukkan dampak buruk bullying, kemudian dilanjutkan dengan diskusi terbuka yang mendalam.
Para siswa diajak menyuarakan pandangan dan perasaan mereka, menumbuhkan kesadaran kolektif tentang pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman bagi semua.
Setelah pelaksanaan kegiatan literasi berakhir, bersama teman seposkonya di Desa Lembangloe, merasa bangga dengan antusiasme siswa dalam menerima pembelajaran penguatan literasi.
“Saya sebagai koordinator desa, bangga melihat antusiasme adik-adik di SD dan SMP saat kami berkegiatan, mulai dari membaca cerita, menulis, hingga berdiskusi tentang bullying, adalah kepuasan tersendiri,” tutrnya.
“Ini membuktikan bahwa dengan pendekatan yang tepat, literasi bisa menjadi sesuatu yang menyenangkan dan relevan bagi adik-adik siswa,” tambahnya











