Makassar – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Hasanuddin (Unhas) Gelombang 115 Tematik Perubahan Iklim melaksanakan kegiatan pemetaan alur pergerakan sampah dan zona potensial mangrove di Kelurahan Lakkang, Kecamatan Tallo, Kota Makassar.
Kegiatan ini diinisiasi oleh Ahmad Fihri Fahreza, mahasiswa Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan Unhas, dan dilaksanakan secara bertahap sejak akhir Desember 2025 hingga Januari 2026.
Puncak kegiatan berupa workshop edukasi lingkungan digelar pada Kamis, 22 Januari 2026, dengan melibatkan warga serta aparat Kelurahan Lakkang.
Ahmad menjelaskan, tahap awal kegiatan dimulai pada 28 Desember 2025 melalui observasi lapangan dan wawancara dengan warga.
“Langkah ini dilakukan untuk mengidentifikasi permasalahan lingkungan yang dirasakan masyarakat, khususnya terkait pengelolaan sampah dan kondisi wilayah pesisir,” jelas Ahmad, Selasa (3/2/2026).
Informasi tersebut kemudian menjadi dasar dalam penentuan fokus pemetaan dan analisis spasial.
Selanjutnya, pada 9 Januari 2026, tim KKN melakukan kegiatan geotagging untuk mendata titik-titik sebaran sampah serta areal lahan kosong di sekitar tambak warga.
“Data tersebut dimanfaatkan dalam penyusunan peta alur pergerakan sampah dan zona potensial mangrove berbasis kondisi lapangan,” ujarnya.
“Pemetaan dilakukan menggunakan platform Google Earth Engine untuk memvisualisasikan pergerakan sampah dari area permukiman menuju titik-titik akumulasi,” tambahnya.
Setelah peta disusun, kegiatan dilanjutkan dengan ground checking pada 20 Januari 2026 guna mencocokkan hasil pemodelan dengan kondisi aktual di lapangan.
Verifikasi ini difokuskan pada titik sebaran partikel sampah serta lokasi lahan kosong yang diidentifikasi sebagai zona potensial penanaman mangrove.
Hasil analisis menunjukkan bahwa sebaran sampah di wilayah Lakkang tidak terjadi secara acak, melainkan mengikuti pola arus air dan cenderung terkonsentrasi di lokasi-lokasi tertentu.
Selain itu, pemetaan ini juga menghasilkan peta zona potensial mangrove yang disesuaikan dengan kondisi tambak warga.
Peta tersebut mengidentifikasi area yang layak ditanami mangrove tanpa mengganggu produktivitas ikan dan udang melalui pendekatan silvofishery.
“Pendekatan ini diharapkan menjadi solusi ekologis yang tetap mendukung aktivitas ekonomi masyarakat,” tuturnya.
Ahmad menambahkan, pemetaan ini bertujuan membantu warga dan aparat kelurahan memahami keterkaitan antara sampah, arus air, dan potensi kerawanan banjir di wilayah Lakkang.
“Peta ini menjadi alat bantu pengambilan keputusan agar penanganan sampah dan penanaman mangrove dapat dilakukan lebih tepat sasaran,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua RT 03/ RW 02 Kelurahan Lakkang, Hasan Kiong, menyambut baik pelaksanaan workshop edukasi lingkungan tersebut.
Ia menilai kegiatan ini membantu warga memahami persoalan sampah dan lingkungan dari sudut pandang yang berbeda.
“Selama ini warga hanya melihat sampah menumpuk, tetapi tidak mengetahui asal dan pergerakannya. Dengan adanya penjelasan melalui peta, kami jadi lebih paham mengapa sampah sering terkumpul di titik-titik tertentu,” tuturnya.
Ia juga berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan dan disesuaikan dengan kondisi lapangan. Menurutnya, pemahaman berbasis peta dapat menjadi bahan diskusi bersama antara warga dan aparat dalam menjaga lingkungan, khususnya di wilayah pesisir seperti Kelurahan Lakkang.
Hasil kegiatan tersebut kemudian disampaikan kepada warga dan aparat kelurahan melalui penyuluhan lingkungan serta pembagian buku saku.
Diharapkan, pemetaan ini dapat mendukung pengelolaan lingkungan berbasis data serta mendorong kesadaran kolektif masyarakat dalam menjaga ekosistem pesisir Kelurahan Lakkang. (*)
Penulis: Ahmad Fihri Fahreza












