“Alasan kami fokuskan spesifik pada komunitas pesisir di pulau kecil karena kami percaya bahwa dampak perubahan iklim sangat mempengaruhi mereka, oleh karena faktor geografis dengan jumlah penduduk yang padat, kurangnya akses ke literasi iklim, kurangnya infrastruktur yang memadai untuk mencegah dampak perubahan iklim lebih lanjut yang ditambah listrik yang tidak selalu ada 24 jam, dan terutama ketergantungan masyarakat pesisir pada laut yang membuat mereka harus memahami cuaca di daerah mereka agar dapat bertahan hidup,” jelasnya.

“Bahwa Project ini menggaris bawahi low tech early warning systems agar seluruh lapisan masyarakat dapat memahami penggunaannya serta menghubungkan dengan expert di bidang perubahan iklim (Puslit Perubahan Iklim Unhas) dan instansi (BMKG) yang mampu memfasilitasi data terkait perubahan cuaca serta iklim secara berkelanjutan kepada masyarakat pesisir,” tambahnya.
Sebelumnya, diberitakan Kepala Pusat Studi Perubahan Iklim LPPM Universitas Hasanuddin (Unhas), Dr. Ir. M. Rijal Idrus, M.Sc., pada Acara Workshop kemarin (31/5) menyampaikan apresiasi kepada Tim Workshop ‘Weathering With You’.
“Raudiyah (mereka) berinisiatif mengadakan acara ini, kami di Unhas hanya memfasilitasi termasuk Pusat Studi Perubahan Iklim Unhas,” ungkap Rijal Idrus.
Panitia ‘Weathering With You’ menurut Rijal Idrus terdiri dari mahasiswa-mahasiswa muda berbakat dan berdedikasi berhasil mewujudkan idealisme mereka untuk mengabdi dan membantu masyarakat kepulauan.
“Lebih jauh lagi, inisiatif mereka ingin berkembang hingga antar negara. Acara kemarin dihadiri oleh utusan mahasiswa dari Philipina dan Malaysia, dengan dukungan dari NUS, Universitas di Singapura,” tuturnya.












