PSPI Unhas Kolaborasi KLH dan HSF Siapkan Program KKN Tematik Perubahan Iklim: Dari Rumusan Kebijakan Menuju Aksi Komunitas Pesisir

Kepala PSPI Unhas, Dr. Ir. M. Rijal Idrus, M.Sc., bersama narasumber lainnya dalam Curah Pendapat dan Penyiapan KKN Tematik perubahan Iklim di Makassar, Selasa (25/11/2025). (Foto: Ist.)

Makassar — Tantangan perubahan iklim yang semakin nyata mendorong berbagai pihak untuk bergerak bersama. Hal ini terlihat dari langkah Pusat Studi Perubahan Iklim (PSPI) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Hasanuddin (LPPM Unhas) yang menggandeng Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dan Hanss Seidel Foundation (HSF) dalam menggelar kegiatan Curah Pendapat (Brainstorming) selama dua hari, 25–26 November 2025 di Makassar.

Dengan mengusung tema “Sinergi Multi-Pihak dalam Merumuskan Program Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim di Kota Makassar: Dari Kebijakan Regional Menuju Aksi Komunitas Pesisir”, forum ini menjadi ruang dialog bagi akademisi, pemerintah, dan lembaga non-pemerintah untuk menyatukan perspektif dan merumuskan langkah konkret menghadapi perubahan iklim.

Langkah Awal Penyusunan Program KKN Tematik

Kepala PSPI Unhas, Dr. Ir. M. Rijal Idrus, M.Sc., membuka kegiatan dengan menegaskan pentingnya forum ini sebagai fondasi penyusunan bahan ajar dan panduan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Perubahan Iklim Unhas yang akan diterjunkan pada Desember 2025.

“Ini langkah awal untuk merekam pandangan para narasumber. Harapannya, gagasan yang lahir dapat diterjemahkan menjadi program yang efektif dan sesuai kebutuhan masyarakat pesisir,” ujarnya.

Baca Juga  Upaya Pencegahan Stunting, Ini Mahasiswa KKN-T 113 Unhas Posko Lapadde Lakukan

Rijal menekankan bahwa hasil rumusan tersebut akan menjadi modul resmi pembekalan mahasiswa KKN, sekaligus menjadi rekomendasi adaptasi dan mitigasi bagi masyarakat pesisir yang rentan terhadap ancaman bencana hidrometeorologi.

Kolaborasi Lintas Sektor Perkuat Ketahanan Iklim

Perwakilan HSF, Nila Puspita, menyambut baik keterlibatan mahasiswa sebagai agen perubahan.

Dirinya melihat KKN Tematik sebagai ruang praktik terbaik untuk mendorong ketahanan komunitas pesisir. Kolaborasi ini penting agar adaptasi dan mitigasi tidak hanya berhenti pada dokumen kebijakan, tetapi terimplementasi di tingkat masyarakat.

Kolaborasi ini menghadirkan 32 lembaga lintas sektor, termasuk perwakilan 18 fakultas di Unhas, tujuh perguruan tinggi lainnya, dan delapan LSM pemerhati isu lingkungan.

Dari Komitmen Global Hingga Ancaman Lokal

Materi pertama disampaikan Kepala Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Sulawesi-Maluku, Dr. Azri Rasul, yang menyoroti Second Nationally Determined Contribution (NDC)—komitmen Indonesia dalam menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) sebagaimana diarahkan UNFCCC.

Azri menjelaskan bahwa perubahan iklim bukan lagi isu global yang abstrak, melainkan ancaman langsung di wilayah lokal.

Baca Juga  Mahasiswa KKN-T Unhas 114 Gelar Inovasi Digital Pembuatan Website Kelurahan Bontotangnga Jeneponto

Ia menilai mulai dari perubahan pola hujan hingga meningkatnya suhu, dampaknya kini dirasakan masyarakat. KKN Tematik perlu hadir sebagai motor edukasi dan aksi.

Azri mengusulkan Program Kampung Iklim (ProKlim) sebagai pintu masuk implementasi aksi lapangan mahasiswa.

Makassar dalam Pusaran Krisis Lingkungan

Dalam pemaparan berikutnya, Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar, Ferdy, S.Pt., M.Sc., Ph.D., menguraikan berbagai dampak yang telah terjadi dalam lima tahun terakhir.

Banjir berulang di kawasan Antang dan BTP, gelombang panas, polusi udara sekitar TPA, hingga peningkatan kasus penyakit pernapasan menjadi bukti krisis yang kian mendesak.

“Polusi udara di sana sudah melewati batas kewajaran. Ini ancaman kesehatan yang harus segera ditangani,” tegas Ferdy.

Ia berharap KKN Tematik mampu menempatkan isu ruang terbuka hijau, kesadaran lingkungan, pengelolaan sampah, dan pelestarian mangrove sebagai fokus kerja mahasiswa di lapangan.

Komunitas Pesisir: Garda Terdepan yang Rentan

Dari sisi masyarakat sipil, Zaenal dari Sulawesi Community Foundation (SCF) menyoroti tantangan adaptasi komunitas pesisir Makassar yang menghadapi tekanan urbanisasi, abrasi, dan banjir rob.

Baca Juga  Tindak-lanjuti Instruksi Prof Zudan, BKAD - BKD Sulsel Kolaborasi Lakukan Percepatan Agar Pembayaran TPP Tepat Waktu

Menurutnya, penguatan infrastruktur hijau, diversifikasi ekonomi, hingga pengelolaan mangrove secara berkelanjutan merupakan langkah strategis untuk memperkuat ketahanan masyarakat.

Komunitas pesisir berada di garis depan menghadapi dampak perubahan iklim. Mereka butuh dukungan nyata, bukan sekadar wacana.

Menuju Aksi Nyata

Kegiatan ini tidak hanya memetakan persoalan, tapi juga menjadi motor penggerak lahirnya strategi berbasis riset dan aksi komunitas. Unhas, KLH dan HSF bersepakat untuk menjadikan Makassar sebagai laboratorium pengetahuan, tempat mahasiswa mengembangkan solusi dan memastikan perubahan iklim tidak hanya dipahami, tetapi juga ditangani.

Rijal menilai langkah kolaborasi ini bukan akhir, tetapi awal dari kerja panjang untuk lingkungan Makassar yang lebih tangguh.

“Rumusan Kebijakan Menuju Aksi Komunitas dari kegiatan ini akan menjadi pilot dalam pelaksanaan KKN Tematik Desember 2025 di 24 kelurahan Kota Makassar,” pungkas Rijal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *