“Dalam persaingan pasar, metode pembayaran ini dapat dikatakan lebih kekinian dan aman dibandingkan metode pembayaran tunai yang dapat dipalsukan serta mudah dan praktis,” jelas Febrina.
“Hanya saja, metode pembayaran Qris ini harus didukung dengan memadainya jaringan internet di desa ini serta penggunaan smartphone yang hampir setiap warga memilikinya,” tambahnya.
Tak hanya memperkenalkan Qris sebagai alat pembayaran yang aman, dirinya juga menjelaskan dan mengajari warga yang hadir, utamanya pemilik usaha terkait cara mendaftarkan Qris dan penggunaannya. Serta pengedukasian terkait laporan keuangan yang dapat membantu warga atau pemilik usaha dalam pengambilan keputusan dan pemantauan kesehatan finansial usahanya.
“Paparan beberapa jenis laporan keuangan yang dapat digunakan, itu juga penting guna mempermudah warga atau pemilik usaha dalam memantau perkembangan finansial usahanya,” pungkasnya.
Terkait kegiatan mahasiswa KKN-T di desanya, Kepala Desa Rasul Umar, memberikan apresiasi kepada mahasiswa dan harapannya kepada warga.
“Terima kasih kepada mahasiswa KKN-T dan berharap bahwa warga desa yang hadir dapat menjadikan teh herbal daun kelor sebagai salah satu inovasi baru dalam membangun usaha dan menjadi produk unggul desa karelayu serta mendapatkan ilmu/pengetahuan baru terkait metode pembayaran yang kekinian dan pentingnya laporan keuangan dalam menjalankan suatu usaha,” tutur Rasul Umar. (*)











