Jeneponto – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Universitas Hasanuddin (Unhas) Gelombang 114 dari program Inovasi Pengembangan Ekonomi Kreatif mengadakan sosialisasi teknologi briket tongkol jagung di Kelurahan Bontotangnga, Kecamatan Tamalatea, Kabupaten Jeneponto.
Sosialisasi dilaksanakan di kantor kelurahan, Senin (4/8/2025). Dihadiri 21 orang peserta diantaranya petani, pelaku UMKM, tokoh masyarakat, warga sekitar, juga Kepala Kelurahan Bontotangnga. Hal ini disampaikan Nurinayah, inisiator kegiatan dalam keterangannya pada Sabtu (16/8/2025).
Nurinayah mengatakan kegiatan ini bertujuan mengenalkan cara memanfaatkan limbah tongkol jagung menjadi briket sebagai energi alternatif yang ramah lingkungan dan hemat biaya.
“Masyarakat bisa mengurangi ketergantungan pada kayu bakar sekaligus mendapatkan penghasilan tambahan,” ujar Nurinayah.
Dalam kegiatan yang digelar di Kantor Kelurahan ini, peserta diajak mengenal proses pembuatan briket, manfaatnya, dan peluang usaha yang bisa dibangun dari teknologi sederhana ini.
Selain itu, mahasiswa KKN-T berharap, masyarakat terdorong lebih kreatif memanfaatkan hasil pertanian, sekaligus menjaga lingkungan tetap bersih dan produktif.
Lanjut Nurinayah mengatakan, tongkol jagung yang sudah tidak terpakai bisa diubah menjadi briket melalui proses sederhana tapi tetap butuh beberapa tahap.
“Awalnya, tongkol jagung yang kering dibakar lalu dihancurkan atau digiling menjadi serbuk halus. Serbuk ini kemudian dicampur dengan bahan perekat alami seperti tepung kanji yang sudah dimasak, lalu diberi sedikit air agar mudah dipadatkan. Campuran tersebut dimasukkan ke cetakan dan dipres supaya padat dan berbentuk rapi. Setelah itu, briket yang masih basah dijemur atau dikeringkan sampai kadar airnya rendah, sehingga bisa terbakar dengan baik dan tidak cepat berjamur,” ungkap Nurinayah.
“Hasilnya adalah briket tongkol jagung yang lebih mudah disimpan, nyalanya lebih stabil, dan panasnya tahan lama dibanding membakar tongkol jagung langsung,” tambahnya.
Salah satu warga, Mujaddid Anshari, mengaku senang dengan kegiatan ini. Ia mengatakan produk briket ini akan membantu warga mendapatkan penghasilan tambahan.
“Di sini banyak petani jagung yang kurang memanfaatkan tongkol jagung. Jadi kalau bisa diolah jadi briket, ini sangat membantu untuk masak sehari-hari atau dijual,” tuturnya. (*)











