Pinrang – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Universitas Hasanuddin (Unhas) Gelombang 114 di Desa Mattiro Ade melaksanakan sosialisasi dan demonstrasi inovasi briket dari limbah sekam padi dorong desa menuju ramah lingkungan.
Kegiatan ini digelar pada Sabtu, 2 Agustus 2025, di Tempat Pengolahan Sampah (TPS) Sengae Utara, Desa Mattiro Ade, Kecamatan Patampanua, Kabupaten Pinrang, sebagai upaya konkret dalam mengelola limbah pertanian secara ramah lingkungan. Hal ini diungkapkan kordinator posko Desa mahasiswa KKN-T, Andri Dwi Saputra, dalam keterangannya pada Senin (11/8/2025).
Menurut Andri, dirinya bersama teman mahasiswa KKN-T seposkonya yang terdiri dari delapan mahasiswa dari berbagai jurusan di Unhas, berkolaborasi melaksanakan kegiatan ini.
Gabungan mahasiswa dari berbagai lintas disiplin ilmu ini, memadukan pengetahuan. Ada dari bidang pertanian, teknik, lingkungan, hingga sosial masyarakat. Berkolaborasi memperkenalkan inovasi briket sekam padi sebagai bahan bakar alternatif yang murah, mudah, dan ramah lingkungan.
“Kami mahasiswa KKN-T, mengajak warga untuk memahami setiap tahapan pembuatan briket, mulai dari pengumpulan sekam padi, pembakaran menjadi arang, pencampuran dengan perekat alami, hingga pencetakan dan pengeringan,” ungkap Andri.
Di tempat yang sama, St. Namirah, juga salah seorang Mahasiswa KKN -T, mengatakan, produksi briket ini, dinilai lebih bersih dan efisien dibandingkan kayu bakar konvensional. Briket ini membantu mengurangi emisi polutan. Ia juga mengatakan briket ini memberikan nilai tambah secara ekonomi. Sehingga inisiatif pembuatan briket ini juga diharapkan mendorong terciptanya desa yang lebih mandiri secara energi dan lebih sadar terhadap lingkungan.
Dalam pelaksanaan kegiatan, ia melihat antusiasme masyarakat, khususnya petani dan ibu rumah tangga, tampak tinggi. Menurutnya, warga tidak hanya menyimak penjelasan, tetapi juga ikut secara langsung dalam praktik pembuatan briket.
“Melalui kolaborasi yang solid antar anggota tim, kami berharap inovasi ini, dapat menjadi langkah awal menjadikan Desa Mattiro Ade sebagai desa pelopor pengelolaan limbah pertanian secara kreatif dan berkelanjutan,” ungkap St. Namirah.
Ruslan salah satu warga yang ikut sosialisasi dan demonstrasi briket dari sekam padi memberi penilaian dan apresiasi.
“Sekam padi yang dulunya hanya dibuang, sekarang bisa dimanfaatkan dan bahkan bisa jadi peluang usaha,” tuturnya. (*)











