Maros – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Hasanuddin (Unhas) Gelombang 115 Tematik Inovasi Daerah, melaksanakan program pengabdian kepada masyarakat berupa edukasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) bagi nelayan di Desa Tupabiring, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros.
Kegiatan yang digagas melalui program kerja individu tersebut dilaksanakan pada Jumat, 9 Januari 2026, bertempat di Kantor Desa Tupabiring, dan diikuti sekitar 20 warga yang berprofesi sebagai nelayan.
Penginisiasi kegiatan, Mawaddah Warahma S, mahasiswa Program Studi Pemanfaatan Sumber Daya Perikanan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Unhas, menjelaskan bahwa program ini berangkat dari hasil observasi lapangan yang dilakukan selama kurang lebih dua pekan di desa tersebut.
“Selama observasi, kami berdiskusi langsung dengan nelayan dan melihat kondisi sarana serta prasarana kapal yang digunakan untuk melaut,” ujar Mawaddah dalam keterangannya, Kamis (15/1/2026).
Dari hasil diskusi tersebut, terungkap bahwa sebagian nelayan jarang membawa maupun menggunakan jaket pelampung saat melaut. Alasan utamanya karena lokasi penangkapan ikan relatif dekat dari pesisir dan berada di perairan dangkal, sehingga nelayan merasa risiko kecelakaan cukup rendah.
“Nelayan beranggapan penggunaan pelampung tidak terlalu penting karena jarak melaut dekat dan perairannya dangkal,” ungkapnya.
Namun, kondisi tersebut dinilai berpotensi membahayakan keselamatan nelayan, terutama saat menghadapi cuaca yang tidak menentu.
Hal inilah yang mendorong Mawaddah menginisiasi program edukasi K3 sebagai upaya meningkatkan kesadaran dan pemahaman nelayan mengenai pentingnya keselamatan kerja di atas kapal.
“Berdasarkan observasi kami, masih banyak nelayan yang melaut tanpa membawa atau menggunakan alat keselamatan, padahal risiko kecelakaan di laut tetap tinggi,” jelasnya.
Melalui kegiatan edukasi K3 ini, mahasiswa KKN berharap dapat mendorong perubahan perilaku nelayan agar lebih memperhatikan aspek keselamatan dalam setiap aktivitas melaut, baik di perairan dangkal maupun di laut lepas.
Dalam pelaksanaannya, edukasi diawali dengan pemaparan materi mengenai potensi bahaya kerja di atas kapal, seperti cuaca ekstrem, risiko terjatuh ke laut, gangguan mesin kapal, serta dampak yang dapat terjadi apabila alat keselamatan tidak digunakan.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi berbagi pengalaman, di mana nelayan diberikan kesempatan untuk menyampaikan kendala yang sering dialami selama melaut.
Salah satu permasalahan yang kerap dihadapi adalah mesin kapal yang tiba-tiba mati di tengah laut, sehingga nelayan harus meminta bantuan kapal lain yang melintas.
Pengalaman tersebut menjadi bahan diskusi bersama mengenai pentingnya perawatan mesin secara rutin, kesiapan peralatan darurat, serta ketersediaan alat komunikasi dan alat keselamatan sebagai langkah pencegahan risiko kecelakaan kerja di laut.
Mahasiswa KKN juga memberikan penjelasan mengenai jenis dan fungsi alat K3 yang seharusnya tersedia di atas kapal, antara lain jaket pelampung, pelampung cincin, tali pengaman, kotak P3K, alat pemadam kebakaran sederhana, senter, serta alat komunikasi.
Kegiatan ini mendapat apresiasi dari Kepala Dusun Pandanga, Desa Tupabiring, Amir.
Amir menilai edukasi K3 tersebut sangat bermanfaat bagi nelayan setempat.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat karena dapat meningkatkan kesadaran nelayan akan pentingnya membawa dan menggunakan pelampung saat melaut,” ujarnya. (*)












